Perairan biru di sekitar Pulau Maiton, Thailand selatan, menjadi saksi momen bersejarah bagi konservasi laut. Setelah hitungan mundur singkat, seekor hiu tutul Indo-Pasifik meluncur perlahan dari kandang adaptasi menuju laut lepas. Momen itu bukan sekadar pelepasan satwa, melainkan awal dari program rewilding pertama Thailand untuk spesies hiu yang selama satu dekade terakhir nyaris menghilang dari habitat alaminya.
Program ini dipimpin oleh kolaborasi lintas sektor—pemerintah, lembaga konservasi, dan akuarium—di bawah payung StAR Project Thailand. Empat hiu muda bernama Maiton, Hope, Spot, dan Toty dilepasliarkan setelah melalui proses panjang pembiakan, pelatihan, dan pemeriksaan kesehatan. Langkah ini menandai perubahan besar dalam cara Thailand memandang konservasi hiu: dari sekadar perlindungan pasif menjadi pemulihan aktif populasi di alam liar.
Hiu Tutul: Dari Ikon Penyelam Menjadi Spesies Terancam
Hiu tutul Indo-Pasifik (Stegostoma tigrinum), sering juga disebut zebra shark di fase juvenil, dulu merupakan pemandangan umum bagi penyelam dan snorkeler di perairan Thailand. Corak tutul yang khas, tubuh ramping, dan gerakannya yang tenang membuat spesies ini mudah dikenali dan dicintai.
Namun, dalam satu dekade terakhir, populasinya menurun drastis. Penyebabnya berlapis: penangkapan berlebih, bycatch (tangkapan sampingan), degradasi terumbu karang, hingga pencemaran laut. Di banyak wilayah, hiu tutul lebih sering ditemukan di akuarium daripada di laut lepas. Kondisi ini mendorong para peneliti dan pembuat kebijakan untuk bertanya: apakah mungkin mengembalikan spesies yang sudah lama “menghilang” dari habitatnya?
Rewilding: Pendekatan Baru Konservasi Laut
Rewilding bukan konsep baru dalam konservasi darat, tetapi relatif jarang diterapkan pada satwa laut, khususnya hiu. Berbeda dengan pelepasan satwa biasa, rewilding menekankan pemulihan populasi yang berkelanjutan, bukan sekadar melepas individu ke alam.
Dalam konteks hiu tutul Thailand, rewilding berarti membiakkan hiu di lingkungan terkontrol, melatihnya untuk bertahan hidup, memastikan kesehatan dan kesesuaian genetik, lalu melepasnya ke habitat yang telah dipilih dengan cermat. Semua tahap ini dirancang untuk meningkatkan peluang hiu bertahan hidup dan berkontribusi pada populasi liar.
Dari Akuarium ke Laut Lepas: Proses yang Tidak Instan
Empat hiu yang dilepasliarkan bukanlah satwa yang langsung dipindahkan dari akuarium ke laut. Mereka menghabiskan waktu hampir dua tahun dalam perawatan manusia. Setelah dibesarkan di akuarium, hiu-hiu ini dipindahkan ke sea pen—kandang laut terbuka—di dekat Pulau Maiton.
Di sinilah proses adaptasi berlangsung. Para perawat yang dijuluki “shark nannies” memantau pertumbuhan, kesehatan, dan perilaku hiu setiap hari. Mereka memastikan hiu terbiasa dengan arus laut, variasi suhu, serta sumber makanan alami. Proses ini krusial, karena hiu yang tidak siap menghadapi kondisi alam liar memiliki peluang hidup yang jauh lebih rendah.
Pemeriksaan Ketat Sebelum Pelepasan
Dua hari sebelum pelepasan, tim dokter hewan laut melakukan pemeriksaan kesehatan menyeluruh. Mulai dari USG untuk memeriksa organ dalam, pengambilan sampel DNA, hingga pemasangan alat pelacak akustik. Pelacak ini memungkinkan peneliti memantau pergerakan hiu setelah dilepas, memberikan data penting tentang perilaku dan tingkat kelangsungan hidup mereka di alam.
Langkah-langkah ini menunjukkan bahwa rewilding bukan tindakan simbolis. Ia adalah eksperimen ilmiah jangka panjang yang membutuhkan data, kesabaran, dan evaluasi berkelanjutan.
Mengapa Thailand Memilih Pulau Maiton?
Pemilihan lokasi pelepasan bukan keputusan sembarangan. Perairan sekitar Pulau Maiton dinilai memiliki kondisi ekosistem yang relatif mendukung, dengan terumbu karang yang masih cukup sehat dan aktivitas manusia yang lebih terkendali dibanding kawasan wisata padat.
Selain itu, kawasan ini memiliki sejarah keberadaan hiu tutul, menjadikannya kandidat ideal untuk upaya pemulihan populasi. Dengan menempatkan hiu di habitat yang tepat, peluang mereka untuk bertahan dan berkembang biak menjadi lebih besar.
Lebih dari Sekadar Melepas Hiu
Bagi Metavee Chuangcharoendee, manajer proyek StAR Project Thailand, keberhasilan tidak diukur dari jumlah hiu yang dilepas. Indikator sesungguhnya adalah kembalinya hiu tutul ke kehidupan sehari-hari laut Thailand: penampakan rutin oleh penyelam, bukti perkembangbiakan alami, dan yang paling penting, hilangnya hiu tutul dari pasar ikan.
Pernyataan ini menegaskan bahwa rewilding harus dibarengi dengan kebijakan yang lebih luas, termasuk pengelolaan perikanan, perlindungan habitat, dan pengendalian pencemaran.
Tantangan Besar di Balik Optimisme
Meski membawa harapan, program rewilding hiu tutul tidak lepas dari tantangan. Hiu memiliki laju reproduksi yang lambat, masa dewasa yang panjang, dan tingkat kelangsungan hidup anakan yang rendah. Ini berarti pemulihan populasi akan memakan waktu bertahun-tahun, bahkan dekade.
Selain itu, tekanan terhadap ekosistem laut Thailand masih tinggi. Pariwisata, perikanan intensif, dan pembangunan pesisir terus menekan habitat alami. Tanpa perubahan kebijakan dan perilaku manusia, hiu yang dilepas berisiko menghadapi ancaman yang sama seperti generasi sebelumnya.
Peran Akuarium dan Kontroversinya
Keterlibatan akuarium dalam konservasi sering menuai perdebatan. Di satu sisi, akuarium menyediakan fasilitas, keahlian, dan sumber daya untuk pembiakan satwa langka. Di sisi lain, ada kritik bahwa akuarium justru mendorong komodifikasi satwa liar.
Dalam kasus hiu tutul Thailand, akuarium berperan sebagai jembatan antara kepunahan dan pemulihan. Populasi yang berkembang baik di akuarium dimanfaatkan untuk memperkuat populasi liar, dengan pendekatan yang transparan dan berbasis sains.
Generasi Muda dan Narasi Baru Konservasi
Program ini juga membawa narasi baru bagi generasi muda. Hiu selama ini sering digambarkan sebagai predator berbahaya. Rewilding hiu tutul memperlihatkan sisi lain: hiu sebagai bagian penting ekosistem yang justru membutuhkan perlindungan manusia.
Di era media sosial, kisah empat hiu dengan nama dan cerita masing-masing menjadi alat komunikasi yang efektif. Ia mengubah statistik konservasi yang dingin menjadi kisah yang lebih personal dan mudah dipahami publik.
Dampak Ekologis Jangka Panjang
Sebagai predator tingkat menengah, hiu tutul berperan menjaga keseimbangan ekosistem terumbu karang. Mereka membantu mengontrol populasi invertebrata dan ikan kecil, mencegah ledakan populasi yang dapat merusak terumbu.
Pemulihan hiu tutul diharapkan memberikan efek domino positif bagi kesehatan laut Thailand. Ekosistem yang seimbang tidak hanya menguntungkan satwa liar, tetapi juga manusia yang bergantung pada laut untuk pangan dan pariwisata.
Rewilding sebagai Model Regional
Keberhasilan awal program ini menarik perhatian negara-negara Asia Tenggara lainnya. Banyak wilayah menghadapi masalah serupa: spesies laut langka yang terlindungi di atas kertas, tetapi terus menghilang di alam.
Thailand berpotensi menjadi model regional untuk konservasi hiu dan satwa laut lainnya. Namun, model ini hanya akan berhasil jika diadaptasi dengan kondisi lokal dan didukung komitmen jangka panjang.
Antara Harapan dan Realitas
Empat hiu yang dilepas mungkin terlihat kecil dibanding luasnya laut. Namun, dalam konteks konservasi, langkah kecil sering kali menjadi pemicu perubahan besar. Rewilding hiu tutul bukan solusi instan, melainkan investasi jangka panjang yang menuntut kesabaran.
Keberhasilan program ini akan diuji oleh waktu, data pelacakan, dan perubahan nyata di lapangan. Apakah hiu-hiu ini akan bertahan, berkembang biak, dan membentuk populasi yang stabil? Pertanyaan itu masih terbuka.
Penutup: Awal dari Perjalanan Panjang
Pelepasan hiu tutul langka di Thailand menandai babak baru dalam konservasi laut Asia Tenggara. Ia menunjukkan bahwa ketika sains, kebijakan, dan kolaborasi lintas sektor berjalan seiring, harapan masih ada, bahkan untuk spesies yang hampir hilang.
Program rewilding ini bukan akhir, melainkan awal dari perjalanan panjang. Di tengah krisis keanekaragaman hayati global, kisah dari Pulau Maiton menawarkan pelajaran penting: pemulihan alam mungkin sulit, tetapi bukan mustahil, selama manusia bersedia berubah dan bertindak konsisten.
Thailand telah mengambil langkah pertama. Kini, laut dan waktu yang akan menjawab apakah langkah ini cukup untuk mengembalikan hiu tutul sebagai penghuni tetap perairan tropis Asia Tenggara.







Tinggalkan Balasan